Aku memanggilmu Raja,
Bukan karna namamu Raja,
Tapi karna Kau adalah Raja dihatiku...
Hei, taukah kamu sebenarnya memuakkan sekali aku disini harus diam seribu bahasa.
Aku harus rela mendiamkan gigiku yang berbehel pink-hijau dan seperti orang bodoh hanya bisa mengutak-ngatik tuts laptopku, sedangkan kamu sibuk bermain dengan tumpukan tugas dilaptopmu dan kita hanya diam menghabiskan waktu didalam ruangan berukuran 3 x 3 m yang pengap.
Tapi jauh dibalik semua itu, sungguh masih bisa kunikmati waktu yang sia-sia ini karnamu.
Walau aku hanya bisa melihat punggungmu yang dibalut kaos merah berkerah dan sedikit terlihat oleh mataku bokongmu yang sawo matang dengan upsss... underwear bewarna hijau sehijau behelku.
Sepertinya aku memang sudah gilak, tapi inilah aku.
Baru kusadari saat pertama melihatmu, aku sudah menemukan kebodohan dalam diriku.
Semoga saja kamu tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini, jikapun kamu sampai tahu maka aku rela melompat dari tebing ketinggian 100 kaki dan terjun bebas, lalu ketika kuterbangun kudapati aku hanya sedang bermimpi dan kamu hanya sebuah ilusi.
“Hei, apa kamu sudah makan siang?” tanya Raja yang mengalihkan pandangannya kearahku.
“Sudah.” Jawabku setengah melirik matanya yang bersembunyi dari balik kacamata Rip Curl bergagang hitam dengan jarak pandang -1.75. Aku bahkan lupa bahwa sebenarnya nasi goreng yang terletak dimeja-makan rumahku belum kusentuh sebutirpun untuk dijadikan sarapan pagi.
“Apa kamu bosan disini, Lou?”
Aku meliriknya sekali lagi, menatap paras lugu tak berdosa dari lelaki yang keturunan batak kental dihadapanku ini.
“Kalau aku bosan, aku pasti sudah pulang.” Jawabku dengan senyum terpaksa.
Tentu saja aku sangat ingin pulang, tapi aku lebih ingin memukul kepalamu pakai kepalan bogem tanganku.
“Dimana?! Dimana otakmu, manusia es...?!” jika bisa kau dengar, itulah suara dari siratan mataku.
“Syukurlah Louissa kalau kamu tidak bosan disini, sudah jadi kebiasaan kami kalau belajar lupa waktu jadi anggap saja kamar sendiri.” Sambung Shanie dengan senyum menjelaskan.
“Iya, nggak apa-apa kok. Santai saja.” Jawabku dengan mengerlingkan sebelah mataku kearahnya.
Apa lagi yang harus kukatakan kalau sudah seperti ini, sudah lima jam aku membodoh didepan laptopku, menggunakan Microsoft Office Word 2007 hanya untuk menulis teriakan lewat puisi cacat milikku.
“I don't know how I'll feel tomorrow,
I don't know what to say tomorrow,
Is a different day.
But I know there's sunshine behind that rain.
Because the sun just was resting from his hiding...”
Apalah yang sedang kuketik ini, seperti tak ada saja hari esok untukku. Semoga saja besok aku memang masih bernafas, aku tak ingin mati muda, aku masih punya impian, keinginan dan cita-cita yang harus kugapai.
Ku-backspace ujung tulisanku dan berhenti dipertengahan, apalah arti sebuah tulisan jika hanya tuangan intuisi.
“Inikan bukan doa, dasar bodoh...!!” gumamku bersama setengah tawa fluktuaktif.
“Apa yang kamu tertawakan, Lou?” tanya Raja melihat tingkah konyolku.
“Oh, tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja tugasmu.” Balasku tersenyum.
“Apa yang sedang kamu kerjakan sekarang?” Raja mengubah posisinya mendekat kesebelah kananku, mengintip layar laptop yang sudah kututup dengan kedua telapak tanganku.
“Jangan lihat-lihat...!!” ketusku membelalakkan kedua mataku besar.
Raja mengembalikan posisinya kebentuk semula, lalu mengulurkan secangkir kopi hitam hangat yang baru disajikan Shanie kepadaku.
“Terima-kasih” ucapku manis dan tak sengaja menyentuh lapisan epidermis teratas kulit tangannya.
Oh my God, Jesus Christ... aku bahkan bisa mendengar deguban jantungku secara jelas tanpa bantuan stetoskop, kurasakan seperti ada 1000 kupu-kupu sedang mengobrak-abrik dedalaman jantungku melawan pacuan musik sang hati.
“Kenapa, Lou?” tanya Raja mengatupkan mulutku.
“Sepertinya belum lengkap minum kopi tanpa crackers. Sebentar, aku beli jajanan dulu.”
Dalihku menutup kegugupanku, aku tak ingin siapapun dari mereka melihat wajahku berubah warna semerah tomat.
Yah, kuakui diumurku yang ke-20 tahun ini, belum pernah sekalipun kurasakan nikmatnya pacaran bahkan ini adalah kali pertama aku menaruh hati pada seorang pria, Raja lah lelaki sial itu. Aku memang bukan gadis romantis yang bisa merangkai kata, menyulam benang untuk syal hangat teman tidur, atau sekedar memasak untuk bekal cinta tanpa pujian, tapi aku bisa menjanjikan semua waktuku saat kamu merasa kesepian atau sekedar menjadi batu loncatan saat kamu membutuhkan teman.
Yah seperti yang sedang kulakukan padanya, kubuang waktuku sia-sia hanya untuk menemani lelaki bodoh ini hanya untuk observasi konyolnya (sebenarnya inilah seni jatuh cinta yang menyenangkan itu).
Aku bisa berjalan beberapa kilometer walau kakiku terasa letih,
Aku bisa menikmati semilir angin walau hari terik,
Aku bisa lupa waktu jika tak kukaitkan arloji perak dipergelangan tangan kiriku.
Itu semua karna hal konyol yang identik dengan fantasiku.
20 Menit Kemudian
Tak ada yang tahu jika darah sudah diujung penghabisan, sepenggal nafas hanya berucap satu nama dan ketika mata sudah tak mampu lagi melihat seketika itu hanya mampu berucap “Selamat Tinggal, Dunia.”
Yah, gadis rumahan yang diberi nama Louissa itu harus mati bersentuhan dengan Chevrolet Captiva Silver BK 91 GT.
Darahnya menjadi saksi bisu kekejaman korban tabrak lari itu, dan tak akan ada yang tahu dia pergi meninggalkan cinta.
Tanpa ada kata, tanpa ada tanda, dan hanya ada satu resi, bisikan hati.
Terkadang kamu harus tahu,
Rasa tak harus berkata tapi mampu mendengar.
Rasa tak harus melihat tapi mampu dicerna.
Dan ketika dia hilang, maka terlambat sudah kamu menyesal.
Karna hancurnya hati itu ada, ketika kamu merasa aku ada saat sebenarnya aku tak ada.