Noviemi Nina Dewanty Pandia

Noviemi Nina Dewanty Pandia

Kamis, 20 September 2012

Rindu Ini...

Ini hati, berbayang nama yang tak terlihat.
Ada sakit tertahan, yang sengaja kugores di hati.
Semakin perih, dadaku nyeri diterjang ombak.
Ini ingatan lalu-lalang setiap hari, terlalu menganggu.
Ada rindu, entah aku tak tahu milik siapa..??

Aku terhempas, seakan jatuh dipersudutan kelam.
Mataku bermuram dengan lembah perlinangan.
Seperti ranting kering, rapuh bermandi bius rasa.
Perih, aku tertatih dengan jatung seakan lupa berdetak.
Bagaimana bisa melupa, saat kutemukan rindu masih mencari.

Dan air mata kembali basah diperaduan, membuatku terlihat bodoh lagi dan lagi.
Kau, tanpa inisial sebuah nama.
Hari ini, semalam, dan sebelumnya, Aku ingat untuk melupakan.
Sekarang walau telah berakhir,
Rindu ini, tetap masih ada. Untukmu...

Kenangan itu, aku seperti lupa pada padang rumput kuberpijak.
Rasa ini mengendalikan ketidakwarasanku, rasioku sudah tak berlogika lagi.
Aku, seperti apa rindu ini?! Mati sudah termakan perasaan.
Iya, aku sedang tidak sehat...

Selasa, 31 Juli 2012

Baru 7 Tahun

Hariku lain saat aku sadar kau berpaling tak lagi denganku.
Hatiku berguncang, tapi suaraku terbenam.
Aku sadar, tapi terlalu takut membuka mata.
Hari-hari itu baru berlalu, dan bagiku serasa 77 tahun sudah menganggu hidupku.

Baru 7 tahun, dan aku sanggup menyembunyikan rasa kehilanganmu.
Harusnya hari itu aku ikut, bukan hanya menangis takut.
Harusnya jika ingin pergi, 7 tahun lalu kau harus permisi padaku.
Kau meninggalkanku, kau pikir apa aku tidak kehilangan?!

Tega, aku sudah hancur...
Rasanya tak sanggup membuka mata, terlalu takut menutupnya lagi.
Kenangan itu, lagi lagi dan lagi...
Bukan hanya sekedar kumpulan gambar, tapi cerita.

Aku menangis, tak mengerti bagian mana yang kutangisi.
Harusnya saat itu, ada waktu satu menit saja,
Aku ingin mengulang semuanya, pada tempatnya.
Tolong aku, dengarkan aku..
Aku mohon, JANGAN PERGI....!!!

Sabtu, 28 Juli 2012

48 Tahun - 2005

Mom, tadi aku berada ditempat dimana pertama kali aku menjadi seorang Kakak.
Mengingat suara tangisan adik bayiku dari luar ruangan, saat aku berdebat dengan Daddy tentang taruhan apakah adikku lelaki atau perempun dan aku pemenangnya.
Mam, sekilas kenangan itu membuat pipiku basah.

Mom, hari ini ulang tahunmu kan, Mom??
Terkadang sakit rasanya kalau aku mengingat kau sudah tak ada lagi.
Terkadang aku lupa kalau aku pernah merasa kehilangan.
Aku kira saat itu, adalah hari yang paling menyedihkan bagiku.

Melihat petimu ditutup, aku rasa harusnya aku ikut saja.
Tapi sekarang aku sadar, hari itu adalah permulaan.
Kesedihanku hanya NOL, esoknya menjadi 1, lusa bertambah menjadi 2, kemudian 3, 5, 10 dan bertambah terus sampai sekarang tak terhingga.
Setelah itu aku kacau, bahkan anak lelakimu seperti tak terurus.

Saat itu aku sangat membenci Daddy yang terlihat biasa saja.
Dia masih bisa hidup dengan tenangnya, dan aku benar-benar membencinya.
Setelah semua kujalani, aku mengutuki kehidupanku.
Tapi jauh dari itu semua rasa benciku terhadapmu lebih-lebih melebihinya.

Seiring berjalannya waktu, aku meraba arti dewasa.
Aku tak bisa jauh menyelami hatinya dengan kasat mataku.
Tapi aku percaya jauh dilubuk hatinya, masih ada nama Mommy terukir.
dan ketegaran yang dimiliki Daddy semata-mata hanya untuk kami anaknya.

Mommy, kenangan itu tidak selalu diingat, hanya sesekali dikenang.
Dan aku Mom, biarlah aku berjalan memilih kehidupanku.
Bukan maksud membuang semua satu-persatu, tapi memperbaiki satu demi satu.
Bila ini yang disebut takdir, maka inilah yang terbaik.

28 Juli 2012,
Happy Birthday, Mom.
Kau selalu dihati.

Sabtu, 02 Juni 2012

Aku dan Balasan


(*) Hai, kamu yang berdiam diri dalam pekat.
Dari seberang aku melihatmu berselimut dendam, membuatku enggan mendekat.
Seperti irisan nista aku bergumam, tapi hanya mampu menitihkan luka.
Maaf, aku mencuri pandang dan kuharap kau juga tak harus mendengar.

(**)Kakiku berpeluh resah, memberontak menambah luka.
Sedikit aku menengadah, mengharap bayang yang terlihat mendekat.
Tangisku bewarna merah, mengalir bersama amarah yang memecahkan kesadaran.
Tapi kau tak kunjung datang.

(*)Aku berbalik dan hendak pergi, hanya diam tak bergeming.
Membawa terang terlihat, tapi nyata hanya gelap.
Hanya sengir terlihat senewen mengandung cerita.
Kemudian hilang dalam penantian.

(**)Aku mengingat hari ini, dikala malam menjadikan terangku hilang.
Dan kakiku terjajah haus akan kebebasan, selalu ingin lari.
Tapi dunia menantang kehidupanku sebagai pemula dan aku tak akan melupakan detik-detik ini.

(*)Untuk kesekian hari aku tak melihat, dan mungkin ini adalah akhir.
Membiarkan tubuhku pergi tapi hati dan pikiranku tersudut pada kegelapan.
Dan esok adalah akhir kehidupan, saat aku tak mampu untuk bertahan, berusaha menghilangkan sakit.
Maaf, mungkin hanya mati maka adalah kebebasan.

(**) Setiap susunan epidermisku sudah kebal oleh waktu, intuisi hanya sampah pengharapan.
Hati dan pikiranku musnah oleh kehausan, dan tubuh ini biar mereka melihat akhirnya.
Kerinduan, hanya kehidupan masa lalu yang ingin kubunuh.
Dan kau, aku hanya tidak bisa memaafkan keadaan walau kau bersembunyi dalam nisan.

Rabu, 11 April 2012

SALAHKAH...?!



Salahkah, kalau aku masih merindukanmu...?!
Bercumbu dengan kesepianku, menikmati kenanganmu.
Dengan mata tepejam, membiarkan angin menyakiti hatiku.
Hembusannya menyibakkan helaian rambutku, berharap dapat menerbangkan linangan dimataku.

Seribu lagu mulai menepuk-nepuk jantung hatiku,
Gemingku pecah dengan jeritan tak terdengar.
Melodi patah hati sayup-sayup mengepakan sayap patah.
Mataku terpejam, berharap terbang tapi hanya dapat tersungkur tanpa peraduan.

Aku rusak, bukan karna aku gila.
Aku rusak, karna aku merasa sakit yang dalam.
Sakit yang kubuat sendiri berkembang pesat, dan kini tak bisa kuhentikan.

Aku, bersama perasaan ini merasakan rindu yang terkutuk
Hanya nada sarkastik terdengar menutupi kegugupan patah hati.
Karnamu, Salahkah aku seperti ini?!

Selasa, 27 Maret 2012

Namaku "NINA"

Terkadang aku malu mengakui kehidupanku yang sudah 23 tahun dengan kumpulan nama tanpa kuketahui artinya.
“Noviemi Nina Dewanty Pandia”, yang akhirnya kuketahui adalah sebuah gelar keturunan dan tiga terdepan kosong kurasa.
Aku selalu menebak-nebak namaku yang sepertinya memang tak menyirat arti penting.

Aku sebut saja “Nina”, karna dari kecil nama itu yang mereka disekitarku memanggil dan terdengar lebih familiar ditelingaku.
Secara sadar kuketahui dahulunya setiap tanggal 14 November selama 16 tahun kulewati dengan cahaya lilin bersama yang kusebut kesempurnaan dalam hidupku, mungkin inilah arti “Noviemi” yang sejak umur 6 tahun aku membaca keterangan 14 November 1988 sebagai tanggal kelahiranku.

“Nina”, selama mengecap bangku pendidikan mereka memanggilku dari penggalan nama “Noviemi” karna itu adalah nama terdepanku, sehingga aku merasa seperti kodok yang kadang dipanggil katak tapi sama saja wujudnya adalah binatang pelompat pemanggil hujan.

“Dewanty”, apa itu?! Bukan karna pulau Dewata, atau aku titisan darah Dewa, tapi aku juga tidak pernah tahu-menahu dari mana asal muasal nama tersebut diberikan kepadaku.

“Nina”, mungkin dari sebuah nyanyian agar aku terlelap dari tangisanku.
kisahnya dulu setelah dilahirkan aku selalu menangis, bersuara hanya untuk menangis tanpa kutahu apa saat itu aku sudah mampu memproduksi air mata? Yang kutahu mereka hanya berkata umur 3 hari aku sudah diberi bubur untuk mengkatupkan bibirku dari pecah tangis ketakutan, takut karna Arwah Mamah dari Mommyku, sebut saja Nenek terus mengajakku bermain.
Mungkin karna aku anak pertama dari Mommyku, yang kata mereka adalah cucu dari Putri kesayangan Kakekku, hingga mereka yang disebut “Orang Pintar” mengusirnya dengan secangkir kopi hitam hangat.
Mungkin, itu juga salah satu sebab mengapa aku menjadi pecinta minuman berkafein.

Aku tahu semua kumpulan namaku adalah pemberian dari Daddyku, tapi Daddyku tidak pernah memberitahuku akan artinya.
Aku pernah bertanya pada Daddyku “Dad, apa arti semua namaku...?!”
Tanpa kutemukan artinya beliau hanya menjawab “itu adalah kumpulan nama orang.”
Aku yang masih penasaran terus menerka-nerka, “Orang siapa? Apakah orang itu hebat? Atau itu kumpulan nama mantan-mantan Daddyku?”, Sepertinya itu sebuah misteri yang malunya tak bisa kupecahkan.

Baru saja aku selesai membaca sinopsis episode ke-13 serial drama korea “The Greatest Love” dari sebuah blog yang kusearch di google, aku menemukan sisi balik dari sebuah cerita tentang namaku: “Nina”
Disana, terdapat sebuah komik yang berjudul “Petualangan Ajaib Paulus”, yang menceritakan seorang anak bernama Paulus dan bagaimana ia menyelamatkan Nina dari raja jahat negeri asing. Dia duduk di mobil ajaib bahkan membawa penolong. “Apa ada yang tahu tentang cerita itu...?!”

Sedikit kutipan cerita,
“Paulus ingin menyelamatkan Nina yang sedang menangis, Paulus dengan berani berlari ke sisinya, tapi waktunya selalu salah dan raja jahat lah yang telah menangkap Nina. Tapi, ada satu kali ketika Paulus berhasil meraih tangannya dan akhirnya menyelamatkannya. Tapi Nina mengatakan raja yang jahat terlalu menyedihkan jadi dia melepaskan tangan Paulus,  dia meninggalkannya dan kembali ke dimensi yang aneh. Bahkan jika Paulus pergi ke raja yang jahat dan meminta dia untuk membiarkan Nina pergi, Nina mengatakan ia sangat senang disana sekarang, dan tidak perlu siapapun untuk menyelamatkannya.”

Sedikit bermain dengan perasaan, aku merasa namaku terlalu mengandung arti kesedihan. Sayang, Mommyku sudah tidur dengan kehidupan baiknya diatas sana. Seandainya keingin-tahuanku tidak terlambat, aku ingin bertanya kepadanya saja. Andai saat ini aku diberi kesempatan untuk bertemu dengannya, mungkin aku akan bertanya dan mendengarkan jawaban keingin-tahuanku ,sambil membaringkan kepalaku dan membiarkan rambutku dibelai lembut kehangatannya.
“Nina”, saat ini biarlah hanya mengandung arti “Katanya” dalam asal dari akhir namaku. Tapi esok, “Nina” biarlah kutemukan adalah “Pengharapan” menurut kehidupanku.