Noviemi Nina Dewanty Pandia

Noviemi Nina Dewanty Pandia

Senin, 26 Desember 2011

LUKA PERIH

Disini ada luka tak terlihat, tapi perih terasa.
Lukanya dalam, melumpuhkan seluruh sistem saraf utama.
Melemahkan kehidupan yang harusnya kulupakan...!!!

Disini ada luka, membekas tak mengering.
Bertambah perih berbinar nanah, akibat karatan kata yang mengoyakkan.
Sayatannya tertahan, membiarkan beku mencairkan guritan kegalauan.

Hancur berkeping-keping, meratakan asa, merobohkan perasaan.
Sakit tak terlihat, dentuman nista nan terkutuk hanya bersimbah bersama angin.
Deretan kawanan domba berjajar rapi, menunjukan kepiawaian dalam senyuman.
Tapi, mata sembab membiru menampakkan kemunafikan kehidupan.

Kau, hanya perasaan terlihat maka kau berbeda,
Dan kau, tak buang bersama milyaran kaummu ternyata sama.
Aku, begitu juga sebaliknya.
Karna kau, kelak mengerti saat merasakan hari yang kan kita jamah.

Disini ada luka, masih kau...!!!
Masih kau yang menambahkan lukanya.
Dan makin jelas terasa, bahkan dikedalaman 100.000 km.
Kemudian aku lari, teringatku hingga mencapai ketinggian 2000 kaki mencarimu,
Terdampar menghempaskanku, kemudian menyesal karna tipu muslihat.

Hingga saat ini aku sendiri BODOHNYA tetap masih KAU, bersama kejutan luka perih, yang belum kau rasa.
Berharap waktu berlalu, menambah alasan ‘tuk secepatnya meninggalkan tempat terkutuk ini, lalu pergi sejauh mungkin melupakan kau bersama luka...!!!

Sabtu, 24 Desember 2011

Missing Christmas

Tanpa baju baru, sepatu baru, tas baru, aksesoris baru, NATAL tetap ada.
Walau tanpa pohon terang, lampu kelap-kelip, hiasan pita warna-warni, NATAL masih juga tetap ada.
Tapi, apakah kakek berjubah merah itu memang ada?!

SantaClaus...?!
Adakah dia untuk’ku...?!
Aku bukan anak kecil yang ingin meminta kado NATAL darinya,
Tapi aku seorang gadis dewasa yang ingin melihatnya.

Bisakah kusandarkan kepalaku di perut buncitmu...?!
Setidaknya biarkan uraian rambutku menikmati hangatnya tangan besar berlapis sarung putih itu.

Hei, aku bukan gadis cengeng yang manja,
Aku hanya ingin mendengar kisah hidupnya yang HEBAT itu hingga terlelap,
Dan sebelumnya menitipkan sepucuk surat rinduku disaku kanannya.

“Opung Santa yang baik, tolong sampaikan surat ini ke Mommy yah...!!”
bisikku kemudian berakhir.

Kamis, 22 Desember 2011

PULANGLAH KAU, MAK....!!!


Pulanglah Kau, Mak...!!,
Udah terlalu lama Kau meninggalkan anakmu ini.
Pulanglah Kau, Mak...!!
Udah cukup Kau berjalan-jalan diluar sana, sekarang waktunya Kau memeluk anakmu ini.
Pulanglah Kau, Mak...!!
Malam sudah terlalu larut, tapi mata anakmu sembab belum juga terpejam.
Pulanglah Kau, Mak...!!
Karna nggak tahu lagi aku harus mencarimu kemana, untuk mengajakmu pulang kerumah yang dulu masih layak dianggap rumah kita.
Pulanglah Kau, Mak...!!
Terlalu banyak kata yang mau kuceritakan untuk mengadu, bahwa sesungguhnya aku masih membutuhkanmu.
Pulanglah Kau, Mak...!!
Sungguh terlalu tegalah Kau meninggalkan anakmu yang seperti tak dianggap ini.
Pulanglah Kau, Mak...!!
setidaknya hanya sekedar menarik tangan anakmu untuk Kau ajak ikut bersamamu.
Pulanglah-pulanglah Kau, Mak...!!
Karna saat ini aku pasrah setengah mati hampir mengulang kesalahanmu yang lalu.
Mamaaakkkkk,... Aku butuh Mamaakkk....!!!
PULANGLAH  KAU,  MAK....!!!