Noviemi Nina Dewanty Pandia

Noviemi Nina Dewanty Pandia

Minggu, 26 Desember 2010

2 Huruf berulang = MaMa

Dimana kau bertempat, saat aku datang...?!
Apa kau bersembunyi ketika aku terlihat menangis...?!
Lihatlah...!!, Jangan menghindar...!!
Tidakkah kau merasakan ada galau ditiap gumpalan bening yang berhapus umur...?!

Disini cerah, mungkin ini kali pertama kudatang tanpa ada hujan...
Dan aku sadar bahwa kau tidak ada, bahkan saat aku menangis...!!
Disini ditempat ini, kali pertama aku memimpin doa dengan intonasi yang tak beratur...
Dan segera kuakhiri, sebelum kudapati tangis menghujam jantung hatiku...

Hei...!! Apa kau mendengar bisikan hatiku...?!Oh... Sepertinya tidak...!!
Setidaknya berikan aku hujan, karna hujan membuatku merasa kau ada...!!
Tapi kau tak peduli, tak merasa, bahkan memang mati rasa...!! 
Tahukah kau...?!, Aku terlalu takut ini menjadi kali terakhir aku berada ditempat ini, Mama...



Selasa, 21 Desember 2010

.*.sebuah puisi untuk Mommy.*.

(28 Juli 1964 → 28 Juli 2010)

Hitungan 46 tahun, tapi berjalan kurang dari 5 tahun.
5 tahun tanpa kecupan dan binar tawa riang.

Mommy, dihari kelahiranmu ini tiada lagi kejutan kecil dari kami untuk melihat senyummu.
Yang tersisa hanya kenangan dalam derai air mata.

Mommy, aku rindu nyanyian manjamu untuk masa kecilku,
Aku rindu belaian lembutmu yang menjemput lelapku,
Aku rindu nada amarahmu ditiap tingkah nakalku,
Dan aku merindukan namaku yang selalu kau sebut ditiap doa tidurmu.

Selamat Ulang Tahun, Mommy.
Biarlah kenangan ini menjadi selimut hangatmu disana.
Tangisan ini hanya sebuah ukiran sayangku padamu.
Lewat gambarmu kukirimkan kecupan rindu milikku.
Dan kuyakin, Tuhan memberimu tempat diSurga yang harus kubayar lewat rekening doa-doa untukNya.
Karna kutahu, Tuhan mengerti maksud kepergianmu.

Tiada lagi benci untukmu, hanya ada cinta ditiap kenanganku bersamamu.
Ijinkan aku membalas tiap doamu, dengan sebuah doa kecilku dan tanpa air mata.

I Love you, Mom. . .

Minggu, 12 Desember 2010

Diam Merindu

Seperti apapun dinginnya itu, jauh disini hanya panasnya siksa yang kurasa.
Diam yang terlihat, hanya tampak kebisuan kasat lentera.
Tapi jauh dihati dan pikiranku, ada suara gaduh pertentangan antara rasa, emosi, dan kerinduan.
Namun apa daya tak sampai kerling beradu?!
Rindu berkata pun tak mampu mengubah!!
Rasaku bukan rasamu, karna rasamu nyata kebenaran.
sedangkan aku, hanya bayang masa lalu..

Kamis, 09 Desember 2010

Sekilas RINDU

Waktu tak dapat berbalik,
Rindu tak mampu berlabuh,
Dan hati tak mudah berganti.
Bait, baris, dan lirik dirangkum dalam satu intuisi.
Lihatlah tiap huruf menari merangkai kata bersama khayal.
Memetik rasa hingga tak ubah melody bernyanyi,
Masih namamu tersebut diRINDUku. . .

Minggu, 05 Desember 2010

Melawan Hati

Tak kusangka secuil kisah mampu melemahkanku, saat kusadari langkah kaki berpijak kembali ditempat ini.
Tanpa dia dengan orang yg berbeda, duduk ditengah kesyahduan nyanyian rohani.
Menikmati tetesan hujan kemarin dengan penerawangan binar kasih Sang Pencipta.
Tepat ditempat ini, dengan jantung dipenuhi insang berduri, kutitipkan selembar doa dari hati. . .

Sabtu, 20 November 2010

Gadis Kecil berGaun Merah

Gadis kecil bergaun merah,
Semerbak harum kelembutan pancaran riang dengan senyum tawa yang menerangkan gelap suara nyanyian dan kepakkan jari dipergelangan.

Gadis kecil bergaun merah,
Sejenak menghilang dikegelapan saat teriakan mengubah tangis dalam kepiluan dan terbujur kaku dengan pucat kematian.

Gadis kecil bergaun merah,
Namamu indah sesuai sejuknya teduh perlindungan,
Dan gaunmu lepas berganti tulusnya kepakkan sayap malaikat,
Putih kesucian, berlingkar terang diatas hiasan kepala.

Kini gadisku menganti merah bergaun putih,
Menjadi penari bersayap bidadari diantara nyanyian surgawi.
Berpeluk hangat dengan keindahan tiada gelap.
Tidurnya adalah doa setelah 20 November  2004.

Selasa, 16 November 2010

Gelap HatiKu

Ketika sayap-sayap patah mulai merapuh,
Seakan duri ikut berlabuh,
Dan perbaringan mulai membisu...
Seperti itulah jeritan malam bergaun hitam,
Menyelimuti pekat menghindari terang,
Karna matahari adalah perang!!!

Senin, 15 November 2010

Mawar Kehidupan

Dulu putih itu mawarku, semerbak harumnya temani benerang lilin kecilku.
Tapi kini padam menjauhi gelap dan warnanya merah berimbas darah.
Ada perih kehilangan yang menyakiti sang merah bercula mawarku.
Dan putih mawarku berakhir hitam kelopak seperti mati terpaku.