Terkadang
aku malu mengakui kehidupanku yang sudah 23 tahun dengan kumpulan nama tanpa
kuketahui artinya.
“Noviemi
Nina Dewanty Pandia”, yang
akhirnya kuketahui adalah sebuah gelar keturunan dan tiga terdepan kosong
kurasa.
Aku
selalu menebak-nebak namaku yang sepertinya memang tak menyirat arti penting.
Aku
sebut saja “Nina”, karna dari kecil nama
itu yang mereka disekitarku memanggil dan terdengar lebih familiar ditelingaku.
Secara
sadar kuketahui dahulunya setiap tanggal 14 November selama 16 tahun kulewati
dengan cahaya lilin bersama yang kusebut kesempurnaan dalam hidupku, mungkin
inilah arti “Noviemi”
yang sejak
umur 6 tahun aku membaca keterangan 14 November 1988 sebagai tanggal
kelahiranku.
“Nina”, selama mengecap bangku
pendidikan mereka memanggilku dari penggalan nama “Noviemi” karna itu adalah nama terdepanku, sehingga aku
merasa seperti kodok yang kadang dipanggil katak tapi sama saja wujudnya adalah
binatang pelompat pemanggil hujan.
“Dewanty”, apa itu?! Bukan karna
pulau Dewata, atau aku titisan darah Dewa, tapi aku juga tidak pernah tahu-menahu
dari mana asal muasal nama tersebut diberikan kepadaku.
“Nina”, mungkin dari sebuah
nyanyian agar aku terlelap dari tangisanku.
kisahnya
dulu setelah dilahirkan aku selalu menangis, bersuara hanya untuk menangis
tanpa kutahu apa saat itu aku sudah mampu memproduksi air mata? Yang kutahu
mereka hanya berkata umur 3 hari aku sudah diberi bubur untuk mengkatupkan
bibirku dari pecah tangis ketakutan, takut karna Arwah Mamah dari Mommyku,
sebut saja Nenek terus mengajakku bermain.
Mungkin
karna aku anak pertama dari Mommyku, yang kata mereka adalah cucu dari Putri
kesayangan Kakekku, hingga mereka yang disebut “Orang Pintar” mengusirnya
dengan secangkir kopi hitam hangat.
Mungkin,
itu juga salah satu sebab mengapa aku menjadi pecinta minuman berkafein.
Aku
tahu semua kumpulan namaku adalah pemberian dari Daddyku, tapi Daddyku tidak
pernah memberitahuku akan artinya.
Aku
pernah bertanya pada Daddyku “Dad, apa arti semua namaku...?!”
Tanpa
kutemukan artinya beliau hanya menjawab “itu adalah kumpulan nama orang.”
Aku
yang masih penasaran terus menerka-nerka, “Orang siapa? Apakah orang itu hebat?
Atau itu kumpulan nama mantan-mantan Daddyku?”, Sepertinya itu sebuah misteri
yang malunya tak bisa kupecahkan.
Baru
saja aku selesai membaca sinopsis episode ke-13 serial drama korea “The
Greatest Love” dari sebuah blog yang kusearch di google, aku menemukan sisi
balik dari sebuah cerita tentang namaku: “Nina”
Disana,
terdapat sebuah komik yang berjudul “Petualangan Ajaib Paulus”, yang
menceritakan seorang anak bernama Paulus dan bagaimana ia menyelamatkan Nina
dari raja jahat negeri asing. Dia duduk di mobil ajaib bahkan membawa penolong.
“Apa ada yang
tahu tentang cerita itu...?!”
Sedikit
kutipan cerita,
“Paulus ingin
menyelamatkan Nina yang sedang menangis, Paulus dengan berani berlari ke
sisinya, tapi waktunya selalu salah dan raja jahat lah yang telah menangkap
Nina. Tapi, ada satu kali ketika Paulus berhasil meraih tangannya dan akhirnya
menyelamatkannya. Tapi Nina mengatakan raja yang jahat terlalu menyedihkan jadi
dia melepaskan tangan Paulus, dia
meninggalkannya dan kembali ke dimensi yang aneh. Bahkan jika Paulus pergi ke
raja yang jahat dan meminta dia untuk membiarkan Nina pergi, Nina mengatakan ia
sangat senang disana sekarang, dan tidak perlu siapapun untuk menyelamatkannya.”
Sedikit bermain dengan perasaan, aku merasa namaku
terlalu mengandung arti kesedihan. Sayang, Mommyku sudah tidur dengan kehidupan
baiknya diatas sana. Seandainya keingin-tahuanku tidak terlambat, aku ingin
bertanya kepadanya saja. Andai saat ini aku diberi kesempatan untuk bertemu
dengannya, mungkin aku akan bertanya dan mendengarkan jawaban keingin-tahuanku ,sambil
membaringkan kepalaku dan membiarkan rambutku dibelai lembut kehangatannya.
“Nina”, saat ini biarlah
hanya mengandung arti “Katanya” dalam asal dari
akhir namaku. Tapi esok, “Nina” biarlah kutemukan adalah “Pengharapan” menurut kehidupanku.
