Noviemi Nina Dewanty Pandia

Noviemi Nina Dewanty Pandia

Jumat, 11 Maret 2011

Chosha Orokana & Ngerana of Love


Kemana kaki melangkah, disitu langit tertawa.
Bersembunyi dibalik jutaan buku setidaknya surgaku.
Sssttttt. . . . . .
Jangan bilang sapa-sapa yak. . .!! ^^
Aku melangkahkan kaki, keluar dari rumah dan memilih menyendiri mencari ketenangan di Gramedia Gajahmada, Inilah salah satu kegiatan yang kulakukan setelah menyelesaikan study singkat Akuntansi Komputer disalah satu bimbingan belajar di Jln. Iskandar Muda Medan, membuang suntuk dengan pandangan pertama pada sebuah novel bersampul merah darah yang berjudul Sleepaholic Jatuh Cinta dan memilih membacanya tuntas.
Aku sedang berdiri disudut, tempat dimana Kamu mudah menemukan Aku pertama kali melalui Kaca bulat diatas, tanpa rambut warna-warni.
Masih berniatkah Kamu mengingatnya?!
Ohhh, pertanyaan BASI...!!
Hhahahaaa. . . . .
Sepertinya aku salah memilih pojokan, “Shittt....!!” dengusku lemas sambil mengaruk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal.
22 Mei 2010, pertama kali melihatmu ditempat ini dengan stelan kaus putih dan celana jeans hitam yang membungkus tubuhku.
“Opsss...!!”, Lihat apa yang sedang kukenakan, tanpa sadar aku mendapati kebodohanku. “Tok...Tok...Tok....!!”, Tiga ketukan kudaratkan dikepala yang tertutup oleh rambut gonjesku.
Aku memilih membabat habis seluruh rambutku dengan dalih “Buang Sial” hanya untuk menutupi kekecewaan yang tak berguna.

Sleepaholic Jatuh Cinta.
Selesai  kubaca dalam tempo 2,5 jam.
Maklum, aku memotong 80 halaman ditengahnya untuk mencapai finish, dan dengan mudah kucerna isi dari novel tersebut. Aku melakukannya karna merasa sedikit risih dengan lelaki yang ada disebelahku, suara rentetan ingus yang sengaja dikeluarkan dengan tutupan sapu tangan biru dongkernya terlalu menggangguku, aku merasa jijik membayangkannya serasa mau muntah dan kuputuskan mengatur posisiku, memilih tempat yang bersebrangan jauh dari tempatku semula lalu menghabiskan 10 lembar bagian terakhirnya.

Bukan hanya Hati yang Panas,
Tapi pikiran juga turut ambil andil mencemooh terik diluar sana.
Sepertinya keadaanku ikut bermain bersama alam....!!
Yeah, aku sedang marah saat aku merasa kesal.
Ternyata aku masih menyimpan cemburu disifat bodoh yang baru saja kuhamburkan.....!!
Sumpah, air asin ini keringat, bukan air mata....!!
Sambil tertawa sinis, aku berteriak "BODOHNYA  AKU........!!!"
Hahahahaaa........... :'D
Apa yang sedang aku lakukan?!  Aku membuka profil seseorang yang sudah lama ingin kutemui, dan apa yang kulakukan?! “Oh, No...!!”, kutatap tajam layar Acer Aspire 4741 dengan gumaman setan yang sengaja kutekan seperti hendak menyembelih.
“AKU BENCI KAU, BABI SAMAMU...!!
EH, TULANGNYA AJA DING, DAGINGNYA BIAR KUMAKAN....!!
SEAKAN-AKAN AKU MELUMATMU HABIS TAK BERSISA.....!!!
AKU BENCI SAMAMU, BENCI, DAN SANGAT BENCI...........!!!” :'(
Seperti itulah bunyinya saat setan sedang menguasai sifat cemburuku tepat disaat terik mencerminkan adanya celah halus yang membocorkan Neraka.
* (Maaf sebelumnya, tapi Aku hanya ingin menuangkan segala Amarah, kesal dan kekecewaan disaat itu, tapi sayang aku tak bisa mengatakan langsung dihadapannya.)
ckckckckck..........


“Hello, come on don’t cry, baby. Diluar sana banyak pria yang lebih baik dari pada anak kecil dibawah umur yang hanya bersembunyi dibawah ketiak Mamanya, Beb....!!”  Aline, berucap sambil menyisir rambut cola panjangnya didepan cermin kamarku yang bernuansa pink.
“Hello, aku bukan seorang gadis patah hati yang mengurung diri dan enggan jatuh cinta, aku hanya ingin konsen dengan tulisanku itu saja, aku tidak habis pikir mengapa kamu dengan mudah berkata pada dirimu sendiri, Aline.” balasku dengan meniru aksen bicaranya yang lentik.
Shuttt...!!, Yudha itu beda dengan mantanmu yang tak seberapa itu, iya walau dia sedikit kasar” akunya melas.
Aku tidak mengambil pusing dengan belaanya terhadap lelaki yang menjanjikan pakaian bagus dengan brand ternama, sepatu Mandy’s yang tak seberapa, jam tangan Rolex, atau sekedar lunch dan dinner yang memamerkan pajak 10%, Aku hanya ingin Novel “Rahasia Sayap Patah dibalik Angka (19)” milikku bisa terpajang di Toko-toko buku yang ada di Medan ini.
Maklum, aku ingin sekali menjadi cangkokan Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal JK. Rowling.
Kulihat handphone-ku berkelap-kelip menikmati getaran tanpa deringan, tanpa waktu lama kuangkat panggilan atas nama Vito Delon.
“Okeh...!!” seruku mengakhiri panggilan.
Aku bergegas menyimpan file pribadiku, tak lupa menguncinya dengan password tanggal lahirku sendiri dan langsung meninggalkan laptop yang bercover pink-lyla untuk dikutak-katik Aline dengan Akun Facebooknya.
Sorry Lin, Aku harus menemui seseorang, gunakan kamarku sepuas hatimu dan kabari aku jika kamu ingin pulang, karena aku tak tahu seberapa lama aku diluar sana.” acuhku tanpa meliriknya.

Aku teringat sesuatu yang selalu kuingat.
Ingat, ingat, dan ingat...!!
Ngeri sekali kurasa ingatanku ini.
 Andai aku bisa menulis didedaunan dan tersenyum pada cermin genangan tak jauh dari tepatku bersandar, mungkin tak kan ada ragu direbahan rerumputan taman.
Disini, tepat di Perpustakaan USU aku sendiri termangu mengulas balik kisah yang berlalu dengan bisikanku. .
Dulu aku pernah duduk berdua dengan seseorang disana menangisi jam dan handphoneku yang hilang dicuri maling, “Akh...!! Teringat lagi.” ngeluhku berpaling tak ingin melihatnya.
Bolak-balik kukutak-katik Sony Ericsson K770i Gold ditanganku, udah setengah jam aku seperti orang bodoh duduk melongo menunggu Vito.
Hei, kelamaan yach?” sapanya mengejutkanku.
Nggak sampai satu jam sich...” jawabku sedikit kesal.
Kita disini atau...”
“Cari tempat lain saja yach, Vit.” potongku cepat.
Hmmm... kita ke Kansas saja, nggak jauh dari sini kok.” ajaknya yang kubalas dengan senyum dan anggukan kecil.
Kansas singkatan dari Kantin Sastra menjadi saksi tempat kami berkhayal tingkat tinggi alias (KTT), maklum kami berdua memang suka menulis bahkan sama-sama bermimpi menjadi penulis terkenal, mungkin Vito lebih terpengaruh dengan Penulis Robert Sinuhaji, beliau jugalah yang memperkenalkan kami tepat setahun lalu. Vito banyak menceritakan tentang perjalanannya mengelilingi Nias, bahkan dia rela makan sehari sekali katanya demi ke Nias, dia memang suka berpetualang, dan aku ingin sekali berpetualang seperti dia. “Pasti menyenangkan!” seruku.
“Kalau kamu mau next time kita bisa traveling bareng, tapi kamu jangan mengeluh kalau kita jalan kaki mengelilingi tujuan.” ajaknya antusias.
Of Course, aku mau!” jawabku girang.

Dibalik rambut gonjes tak bermake-up ini,
Sebenarnya adalah sosok gadis yang romantis,
Hanya saja kaki yang tak suka mengenakan heels ini,
Tak memiliki Subjek untuk menuangkannya.
Vit...” ucapku memecahkan hening kemudian terhenti, Vito menatapku yang sibuk mencari kalimat pas untuk melanjutkan penggalannya.
“Kamu suka cewek tomboy nggak?” tanyaku sedikit ragu.
Hmmm... untuk tulisan kamu yach?” tanyanya balik tanpa menjawab.
“Nggak, aku cuma nanya.”
“Aku belum pernah menyukai cewek tomboy.” jawabnya bingung.
Syukurlah kalau begitu.
“Bagaimana perasaanmu ketika suka sama seorang cewek, maksudku cara wajarnya kamu menunjukkan perasaan kamu, atau cara kamu berpikir tentang cewek tersebut?” tanyaku beruntun. Sungguh, aku tak nyaman setelah ini.
“Sekarang aku belum bisa cerita about love nanti hasilnya nggak maksimal, tapi intinya samalah seperti yang dirasakan cewek, bedanya terkadang cowok lebih egois dan realistis!” jawab Vito kurang memuaskanku.
“Kamu mau nggak jadi pacarku?!” tanyaku tanpa pikir panjang dan, Oh my God, apa yang baru saja kulakukan...?! Shiittt.....!! sumpah ini semua diluar kendaliku.
“Hanya status palsu, kita pura-pura pacaran, pokoknya bukan sungguhan kok Vit. Toh kamu nggak bakalan suka sama aku kan?! Begitu juga sebaliknya denganku. Hanya seminggu, bagaimana??” tanyaku sekali lagi.
“Untuk apa, Beb??”, sekali lagi Vito bertanya tanpa menjawab. Huffttthhhh.......   
Daya Imajiku berlari jauh,
Saat sentuhan tak mampu memulai.
Tanganku menggenggam intuisi kosong yang terhinggap,
Tapi tak berujar saat dinarikan.
Ada kesemuan yang mengganggu,
Jeritan-jeritan syahdu yang memecahkan gelap dan berakhir pudar tanpa permulaan. . .
Apa yang sedang aku pikirkan...?!
Ketika intuisi banyak menangkap bayang,
Tapi aku malah mengacaknya tak beraturan.
“Untuk tulisanku. Aku ingin menulis dari hati, aku ingin tulisanku terkesan nyata, dan aku ingin orang-orang dapat mengkhayalkannya secara logika, Vit.” jelasku kemudian dijawab dengan senyumannya yang manis.



Sekarang, setiap hari sama saja untukku.
Tidak ada yang special, tidak ada yang ditunggu!
Bahkan aku hampir lupa kalo hari ini adalah sabtu, malam ini malam minggu, dan esok adalah hari minggu...!!
Jadi, apalah arti sebuah hari...?!
Sama saja semuanya itu.
Ini sudah hari yang ketiga, jangankan menghubungiku, sekedar mengirim pesan singkat pun dia enggan. Huffttthhhh.......   
Dan ini panggilan kesepuluh yang kulakukan dengan telepon selulerku tapi tak juga diangkatnya, sepertinya Vito memang tak niat.
Dengan emosi aku mengirimkan pesan singkat kepadanya, isinya:
Sepertinya sia-sia, kita akhiri saja. Trim’s.

Hujanlah terus sederas-derasnya, agar luapan teriak amarahku tenggelam tak terdengar.
hujaannn oh hujaannnnn...
Inilah jeritan hatiku, rapuh bersama hujatan musik keras.

tolong hantam aku dengan ketajaman beningmu,
biar terasa cucukan basahmu menghujami tiap perihku.
sejenak, bersihkan pikiranku dari api yang kubuat sendiri.
Aku sedang mendengarkan tiap ketukan hi hat, ride cymbal, crash cymbal, 2 toms, floor tom, snare dan bass yang dimainkan kakakku Bobby dengan kepiawaiannya, Bobby memang seorang drumer dari sebuah band yang cukup dikenal anak Medan yang sering nongkrong dikafe gaul dan itu membuatku bangga atas setiap prestasinya yang terpampang dipiala yang berjejer rapi diatas lemari pakaiannya. Aku menikmati emosinya yang tertangkap dari bisingnya aliran Metal “Positive Thinking miliknya Kobe” dari dalam kamarnya, dan aku turut serta menemaninya dengan suara teriak lantang.

Hei, jangan melamum nggak ada gunanya...!!
Nggak akan merubah keadaan...
Awas, kamu kesurupan kemasukan setan...
Nanti lupa diri nanti tambah edan...!!
Jangan nyerah gitu dong,
Coba cari yang lain di bumi ini,
Nggak cuma dia seorang...
Masih banyak kok yang bisa,
Lebih baik dan mengerti,
Nerima kamu apa adanya...


Rahasia Sayap Patah diBalik Angka (19)

Untuk satu hari ini saja, biarlah benar itu ada.
Aku tak pernah lelah menipu banyak orang, membohongi mereka demi kepalsuan tapi biarlah satu hari ini aku jujur walau hanya untuk diriku sendiri.

Bukankah selalu ada tanya untukku?!  Inilah jawaban dariku.
Sebentar, tapi meninggalkan luka yang teramat membekas.
Disini, jauh didalam dada ini ada penyiksaan, sakit sekali kurasa.
Pagi menanti malam, malam gelisah pagi.
Harapan yang mati, tapi masih kupinta.
Aku salah, maafkan aku Tuhan (tapi kenapa rasa ini tak mati jua?)

Menangis, menjerit, tersudut hanya menepuk dada.
Kenapa harus aku?
Apa ini hukuman? Cobaan? Atau ujian kesetiaan terhadapMu?
Kau terlalu kejam terhadapku, Tuhan.
Hari ini rasaku mati untuk doa, maaf untuk ucapanku yang begitu emosi.

Bisakah Kau hapus tanggal ini, Tuhan?
Aku tidak suka angka ini, aku benci tanggal ini!
Dan yang paling utama, aku paling benci rasa ini masih ada (setidaknya hentikan rasa ini, Tuhan)

Tuhan, akulah anak yang terbuang, tapi aku masih berharap ntuk dipungut kembali.
Salahkah aku, Tuhan?
Tolong jangan lanjutkan sakit ini, kumohon Tuhan.
Inilah kejujuran disetiap tawaku.


NOTE :
16 Oktober 2010:
Aku menulis puisi sekitar pukul 01:00 wib, dini hari yang masih terjaga selalu menanti berharap dan bermimpi. Pagi ini aku menangis yang berlebih, memilih mengunci kamar sendiri dan merasakan sakitnya kegelisahan.
Sekitar pukul 03:00 wib, aku tertidur setelah melewati lelah tangis mataku dan aku bermimpi yang cukup aneh, lupa-lupa ingat akan kuceritakan.
Aku berada disuatu ruangan ramai dengan wajah-wajah yang beberapa kukenal dimasa SMP-ku, mereka semua sepertinya tidak suka dengan kehadiranku, aku seperti tersudut karna pojokan mereka yang memandang sinis kearahku. Aku tidak ambil bagian dalam acara dimimpi itu, tapi seseorang yang sangat kuhormati menyuruhku berdiri dihadapan banyak orang dan bernyanyi untuk mereka. Aku menggunakan headset dikedua telingaku, menyimpan handphone disaku rok sebelah kananku, tak ada satu lagu pun yang kuhapal tetapi sebuah lagu terputar senyalir ditelingaku.
Dan tahukah kalian lagu itu lagu apa?! Itu lagu milik Angel Karamoy dengan judul JejakMu Tuhan.
Sering ku tak mengerti
Jalan-jalanMu Tuhan
Bagai di belantara yang kelam

Tanpa seribu tanya
Namun tetap percaya
JejakMu Tuhan sungguh sempurna

Ajarku memahami semua yang Kau ingini
Agar hidupku puaskan hatiMu
BagiMu aku rela
Sepenuh hati menghamba
Serahkan diri genapi karyaMu
.

Aku bernyanyi, bernyanyi dengan jiwa-ragaku dan menangis dibait tengahnya, Aku terlarut hingga lupa beberapa liriknya. Aku berdendang dengan nada tanpa lirik kata, tapi mereka seperti menikmatinya tanpa merasakan kesalahan pertengahan laguku, Aku melanjutkan tiap bait terakhirnya, menutup mata, meletakkan tangan kananku didada, dan kembali bernyanyi dengan perasaan yang tanpa sadar membuatku kembali menjatuhkan rentetan air mata.
Semua, semua yang begitu menjengkaliku memberiku tepuk tangan yang meriah di akhir laguku.
Aku terharu dan kembali menuju kebangku diasal mula mimpiku, seorang teman yang awalnya anti terhadapku memberiku setengah dari dua cokelat yang berbeda. Aku meraihnya, “Bukankah kedua cokelat ini memang milikku?! Mana setengahnya lagi?! Huffthhhh..... dia telah memakannya.” Gumamku dalam hati.
Dia hanya tersenyum melihatku, aku diam mengela nafas yang cukup panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. “Tidak apa, yang penting dia memberikan setengahnya lagi padaku.” sambungku lagi.
Aku terbangun ketika kudapati sekarang pukul 08:00 wib dan itupun karna Adikku Tommy yang membangunkanku dan mengajakku sarapan.
Aku bertanya-tanya, mengartikan setiap detail mimpi yang baru kulewati dengan tangisku sebelumnya. (Apa ini jawaban dari setiap tanya, doa dan pengharapanku, Tuhan?! Jawabku pribadi mungkin iya).

Pukul 21:00 wib
Aku sendiri dirumah ketika semua orang dirumah ini mempunyai kesibukan tersendiri diluar sana, Aku memainkan akun Facebookku dan selalu memperhatikan profil seseorang setiap aku merindukannya. Dari rentetan nama orang yang online malam ini aku menyapa seorang teman dengan profil topi santa dan baju kemeja merah lengan panjangnya yang saat itu sedang sibuk browsing dan bermain game online PointBlank. Dia bertanya padaku apa aku tidak malam mingguan? Jujur, sebenarnya sakit sekali aku mendengar pertanyaan itu. Apa dia benar-benar tidak tahu tentang keadaanku? (maksudku aku dan sahabatnya). Mungkin dia berpikir perasaan itu semudah membalikkan telapak tangan saat dia berkata malam mingguan dengan pacarku! (tak semudah itu mengantikannya, walau cuma hitungan lima bulan tepat ditanggal 19).
Dia bertanya aku sedang berbuat apa? Aku hanya menjawab sedang menulis, menulis apa?! Menulis tentang sahabatnya. Kenapa? Tanyanya mungkin sekedar pertanyaan dan jawabannya hanya satu: KANGEN.
Dia menyarankanku untuk bertemu dengan sahabatnya jika merindu, ingin sekali tapi itu kurasa takkan mungkin karna ia sudah tak ingin lagi bertemu denganku. (Kurasakan dengan jawaban “NTAH” yang masih membuatku sakit dan merasa aku hanya seorang penganggu baginya)

Pukul 23.00 wib.
Aku berimajinasi, berkhayal dan menyusun tindakan konyol yang akan kulakukan ditanggal 19 (hanya sekedar ingin melihat, memeluk, berbincang dan melepas rinduku cukup satu hari ini saja sebelum aku benar-benar tak  akan melihatnya lagi selamanya)
Tahukah engkau? Apa yang paling ingin kulakukan? Aku ingin kau selalu menggenggam tangan kananku seperti Sabtu itu saat aku mengajakmu berkunjung kemakam Mommyku, dan berharap kau mengantarku pulang kerumah yang menenggelamkan hariku kemudian memberimu sesuatu yang tak sempat kuserahkan sebulan yang lalu (aku yakin kau masih ingat itu).
Dan itu pasti akan kulakukan tanpa seorangpun yang tahu rencanaku, kecuali Tuhan!
(tanpa aku sadar semua ini hanya ulasan imaji hati dan pikiranku).

17 Oktober 2010, Pukul 12:00 wib
Aku mengikuti ibadah di Gereja Bethel Indonesia (GBI Medan Plaza) bersama seorang temanku Yunda Elmira, dia mengajakku ibadah disaat aku sedang berbaring malas, tapi tetap kuiyakan dan akhirnya aku mendapat begitu banyak kata-kata semangat dari pengkotbah Bpk Dr. Wijaya.
Salah satunya: Kita semua adalah mujizat, Tuhan selalu memperhatikan kita dan mengetahui segala sesuatunya tentang kita. Jika kita merasa gagal dan bersedih, kita tak perlu cemas karna Tuhan mempunyai banyak stock/cadangan kebahagiaan untuk kita.
(Aku sempat mengupdate status di facebook milikku pada pukul 23:00 wib dan beberapa menit kemudian seseorang yang masih memiliki hatiku menjadi orang pertama yang memberikan jempolnya untuk status ini, aku membalas memberi jempolku pada statusnya sebagai tanda terima kasihku atas jempolnya. Aku tak mengerti dengan perasaanku saat ini, hatiku cenat-cenut dan menganggap ini bahagian dari setiap jalan Tuhan, tapi satu kupastikan aku tak ingin berganti status karna ada jempolnya menghiasi statusku).

18 Oktober 2010,  Pukul 10:00 wib
Aku berada dirumah temanku Evi Cinra dari pukul 08.00 wib tadi, disini aku makan gratis dan sesuka hati mengotori rumahnya. Lumayanlah sekali-sekali tidak akan jadi masalah untuk merepotkannya. Baru dua bulan aku mengenalnya, tapi kami bisa begitu mudah akrabnya bahkan dia tak segan-segan menceritakan sebahagian kisahnya padaku.
Bahkan dalam keadaan seperti inipun aku dituntut nuraniku untuk tetap menyemangatinya walau tanpa sadar aku juga membutuhkannya, aku seperti bercermin dan mendapati kesedihanku dibalik mata sendunya, dan kudapati wajahku sedang menasihati diriku sendiri (dalam hati aku tertawa kecil. “Oh Nina, bicara memang lebih mudah daripada mempraktekkannya.”) Tapi setidaknya dia berjanji, ini adalah hari terakhirnya untuk menangis (setidaknya untuk masalah ini) dan aku membiarkannya melepas semua kepenatan yang mungkin lebih melapangkan dadanya, (cukup dihadapanku saja agar kamu tak terlihat lemah dihadapannya, karna dia belum tentu melakukan hal yang sama seperti yang telah kamu lakukan hari ini).
Kemudian dia berbalik dan bertanya “Bagaimana denganmu? Apa kamu bisa menerima jalanmu?”
Aku tertawa terbahak-bahak, menenggelamkan kedua mataku, memegang perut dengan tangan kananku dan tak menjawabnya.
“Sudahlah, Nuth! Jangan menipu dirimu sendiri, ketawamu palsu!”
Kuhentikan tawaku, perlahan kuberanikan diri mentap mata sendunya dan membalas “Ada yang salah dengan tawaku? Ini memang tawaku, apa palsunya? Kemarin, semalam dan hari ini aku baik-baik saja (tapi untuk besok entahlah, aku tak janji). Yakinlah, Ncrit! Semua akan indah entah kapan waktunya.” Sambungku dengan tawa yang menangisi bodohku..

19 Oktober 2010
Inilah rentetan kisah dibalik angka 19 milikku, bermula di Rabu pagi dibulan mei 2010 rasa yang tumbuh tanpa tatapan mata, pertemuan yang sederhana, rangkaian doa malam yang menjanjikan kedamaian, semangat untuk warna kehidupan baru, dan awal kejujuran dari hati. Tapi sekarang, waktu berputar dan menjatuhkanku dari kemegahan, gelap dan aku kembali kemasa lalu.
Terima kasih Tuhan, dan aku masih tetap bersyukur.
Aku menulis, dan ijinkan aku menjawab setiap tanya mereka.
Aku menulis, dan biarlah hari ini ada kejujuranku selain dari padaMu.
Cukup, biarlah mereka menerka-nerka jika tak mengerti juga setelah ini.
Cukup, biarlah aku menunjukkan sisi lemah kembang perawanku untuk hari ini saja.
Cukup, biarlah aku lelah menangis untuk keterbukaan ini  tapi esok aku kan kembali menjadi Nina yang ceria.
Karna aku Karenina Febrinta berjanji,
Mulai saat ini hanya akan selalu dekat, jujur dan terbuka tentang kehidupan sisi balik namaku hanya padaMu saja, Tuhan.
Tak akan lagi aku terlihat lemah dan bergantung pada siapapun kecuali Engkau.
Karna aku adalah gelapnya misteri, api yang membara dingin, dan putihnya bening senyuman.
Hatiku telah padam dan takkan kupinta lagi, untukmu selalu untukmu.
Simpan atau buang jika tak kau kehendaki, karna aku telah meminta hati yang baru pada Tuhanku.
Hati yang kecil tanpa luka untuk mengasihi sesamaku.
Dan cintaku selalu hanya untuk Tuhanku.


Baru saja aku melanjutkan beberapa halaman tulisanku, sebuah pesan singkat dari salah seorang pengalang dana Koin untuk rumah adat Karo mengundangku menghadiri acara Konser musik dan tari tradisional Karo.
Andai saja Vito mau menemaniku, Huffttthhhh......
“Beb, pinjam laptopmu dong...!! biasa, kakak mau pakai webcam...”
“Eittt...!! enak aja pinjem-pinjem, pakek syarat donk...!!” ideku tak mau kalah.
“Apa lagi itu syarat-syarat?! Nggak ada, pinjem pokoknya!!”
“Kalau kakak mau nemenin Bebby ke acara Konser musik dan tari tradisional Karo, Kakak boleh megang laptop itu selama seminggu.”, setidaknya ini tawaran bagus daripada dia harus selalu menyogokku dengan dua batang Chunky Bar setiap meminjam laptopku.
Bye-bye yayang Acer. Hikz hikz hikz.....

Gesekan nada biola bertaruh gemericik rintik malam,
Bersama tetesan nada angin bersemilir nyanyian jiwa.
Lihat tarian berselendang merah dengan gendang tarian yang menarik keharuman,
Seperti merasakan setengah keadaban yang mulai memudar.
“Sepi amat yang datang, hitung jari juga bisa, sungguh membosankan Bebby!!”, ngeluh Kak Bobby.
“Berisik...!! kalau bosan jemput aku satu jam lagi.”, ketusku tak menghiraukannya pergi, Bobby memang tidak terlalu suka dengan acara seperti ini, mungkin karna dia tak biasa menjadi penonton.
Sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukai acara yang beginian, hanya saja aku sedang mencari Vito ditempat ini dan aku yakin aku bisa menemukannya yang memang pecinta adat Karo. Dugaanku tepat, tak sampai setengah jam aku duduk mematung aku melihat Vito berdiri didepan memperagakan pakaian adat lelaki Karo,
Oh No Bebby, He so looks handsome.
Aku mengejar Vito yang sudah turun meninggalkan area panggungnya menuju ruang ganti, melewati rintik hujan dipertunjukan terbuka yang diadakan di kampus Neuman bergedung jingga ini dan aku sama sekali tidak tahu-menahu kalau Vito juga ikut tampil di acara ini.
“Vito...!!” panggilku menghentikan langkahnya yang langsung berbalik kearahku diam, tak ada respon terkejut terlihat dimimik wajah Vito, sepertinya dia sudah melihatku tadi, atau bahkan dingin tak mengharapkan kehadiranku.
“Aku sudah tak mengharapkanmu menjadi icon ceritaku, jadi tolong bersikap sewajarnya, seperti biasa.” Sambungku berharap sebaliknya.
“Maaf, kemarin dan sampai sekarang pulsaku tinggal lima puluh perak lagi, makanya aku tak bisa menghubungimu.”
“Jadi, kenapa kamu tak mengangkat teleponku?” tanyaku lagi.
“Dari kemarin aku terlalu sibuk latihan mempersiapkan acara ini, jadi aku hanya melihat 10 missedcall dan one new message.”
Aku mulai muak dengan alasannya yang tak sampai jangkauanku, aku memalingkan wajah segera meninggalkannya dansecepatnya pergi tempat ini, Aku seperti tak mengenalnya, dia bukan Vito.
“Sabtu ini aku ingin berkeliling Berastagi, kalau kamu mau jam delapan pagi kita ketemu di stasiun Sutra Simpang Kwala dan jangan telad!” sambungnya menghentikan langkahku sebentar, tapi tak menggubrisnya.

Mari bernyanyi bersama hujan, narikan musik dengan sepasang stick ditangan.
Hentakkan kedua kaki, tenggelam bersama suara yang bertabuh.
Ekspresikan teriakan hati yg terpendam. Hancurkan, hancurkan...!!
Pukul sekuat tenaga agar nyaring terdengar...!!
Kalahkan berisik diluar sana, lalu menjerit dengan nyanyian.
Persetan dengan keadaan, jadikan Malam ini Surga dan yakinkan hati senang...!!
Gedebruk-gedubrakkk!! Waaooowww.... 
Baru saja aku mematahkan sebelah stick maple digenggaman tangan kananku karna hentakan keras yang ku daratkan dan memcampakkan sebelahnya lagi kearah dinding kedap suara yang sengaja disusun Bobby dengan aneka material lapis demi lapis.
“Arrgghhhhh...!!!” teriakku kesal.
“Bebby...!! sudah lebih tiga kali kamu mematahkan stick drumku, ganti itu!!”  marah Bobby yang tiba-tiba datang melihat patahan stick yang tergeletak di sisi kanan bed yang bercover spiderman.
“Piano yang diruang tamu saja hancurkan, jangan assetku!! Dasar perempuan jadi-jadian...!!” lanjutnya emosi.
“Arrrggghhhhh...!! aku muak!!” balasku teriak kemudian keluar kamar meninggalkannya yang binggung dengan tingkahku.
Dengan pena biru kucoret isi kertas pink yang ada dibinder biru kecilku hingga menghasilkan sobekan, kusobek lagi, mengumalnya kemudian membiarkan berserak dilantai kamarku yang bewarna cream.
Aku bahkan tak mendapat ide untuk hari ini.
“Kamu kenapa sich, Beb?” tanya Bobby yang tiba-tiba sudah duduk diatas kasur pink bermotif strawberry short cake-ku.
“Muka itu jangan dikeritingi tambah banyak nanti jelekmu, mending cerita gito loch, mana tau kakak Bobby ganteng bisa bantu.” Sambung Bobby lagi yang sekarang sudah merentangkan badannya  menunggu responku.
Aku menoleh kearahnya, menutup tulisanku dan ikut tenggelam disebelah Bobby sambil memeluk guling kesayanganku.
“Kak, apa Kakak mau jalan seharian dengan cewek yang tidak Kakak suka?” tanyaku dan mampu mengernyitkan kedua alis Bobby.
“Kakak bukan tipe orang yang mau menghabiskan waktu untuk orang yang nggak penting, itu hanya kerjaan yang sia-sia.”
tanyaku lagi.
“Kenapa Bebby nanya begitu?” tanya Kak Bobby balik tak menjawab.
“Cuma nanya.” Jelasku singkat.
“Ketahuilah Beb, semakin cuek seseorang, maka akan semakin tebal cinta yang dimilikinya  seperti gunung es di Kutub Utara.” Jelas kak Bobby sok dewasa, tapi apa yang dikatakannya masuk akal juga.

Ada rindu, tapi entah untuk siapa?
Sepi, tapi hentakan musik sebelah membooming begitu kencangnya.
Aku sendiri memilih malam dengan gelapku.
Disini, seberkas rindu sedang mengundahiku.
Kubiarkan khayalku berfantasi,
Walau tak ku mengerti bagaimana perasaan hati berbisik...
Besok adalah Sabtu itu, tidurku tak tenang memikirkannya. Haruskah aku datang? Tapi untuk apa, tidak akan menyenangkan pergi dengannya tanpa suatu alasan yang jelas. Akh, sudahlah!!

Pukul  07:30 wib,
“Shiitttt...!!” teriakku melihat jam digital yang tertera dilayar handphoneku, dengan sigap aku loncat dari kasur empukku berlari ke kamar mandi yang ada dikamarku dan mandi secepat kilat. Tak akan ada yang tahu gerah dibadanku jika aku membubuhi banyak parfum Especially - Jadore by Christian Dior ~ Female.
“Kak Bobby...!! buka pintu, cepat...!!” teriakku kesetanan sambil mengetuk keras pintu kamarnya.
“Berisiikkk...!! Bebby, jangan gangguin orang tidur kenapa sich!! ngantuk ini akhh...!!”
“Buka Kak, Tolong ini penting banget...!!” sambungku lagi, dan langsung dibukakan Bobby yang sedang bertelanjang dada dengan rambut kumalnya yang berantakan.
“Apaan sich akhh...?!” gerutu Bobby sambil menggaruk kepalanya.
“Antar aku sekarang juga ke Simpang Kwala, Please...” mohonku sedikit memelas dengan wajah dikasihani andalanku. Hehehe...
“Yauda, tunggu Kakak siap mandi dulu.”
“Aduhh, nggak usah mandi, Bebby udah terlambat, kak.
Ayo donk, tolong tolong tolong...” rengekku manja dan berhasil memaksanya mengantarku segera.

Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku,
Seketika kudapati gemuruh ombak sedang memacuku.
Terasa degupan kencang dihati,
 Seperti orang bodoh, aku berharap tak dibodohi waktu.
Bobby mengendarai Ninja 250 R Merahnya seperti pembalap liar yang sedang dikejar polisi, tapi tetap saja aku telat setengah jam dari waktu yang dijanjikan, harusnya tak perlu lagi aku datang ketempat ini, tapi hatiku masih saja memaksa padahal logika menangkap mustahil lewat mata yang tak juga melihatnya.
Pasti dia sudah pergi. Hufftthhhh......
“Nggak perlu Kakak tunggu kan, Beb?” harapnya tak menginginkan.
“Nggak usah, makasih yach Kakakku ganteng, baik hati, rajin menabung dan cinta tanah air.” Rayuku manja sambil melambaikan tangan berpisah dengannya.
Aku sudah mencarinya ditiap tempat stasiun ini, tapi tak juga kulihat batang hidungnya. Aku yakin dia pasti belum berangkat.
Haruskah aku menghubunginya? Tapi... oh tidak!! Jangan sampai aku terlihat bodoh lagi.  DAMN.
“Sudah kuduga, kamu pasti datang.” Tegur Vito mengejutkan, tepukannya dibahuku mengalihkan kagetku.
“Maaf, aku telat.” Sambungnya dan kubalas dengan membelalakan kedua mataku kearahnya.
“Yaudah, kita berangkat sekarang.” Ajaknya kuiyakan.

Bolehkah aku memelukmu?
Aku ingin meredam rindu, menepis luka dan menghapus sedih.
Ijinkan ketenangan menyapa kita!!
Untuk sebuah salam hangat yang menghilang. . .
Aku menoleh kesebelah kanan tempat dudukku, kulihat Vito yang tertidur dengan headset dikedua telinganya, kupandangi kumis tipis dan bubuhan brewok diwajahnya tak berkedip.
Hari ini dia terlihat mirip denganmu,  gelengku bodoh memalingkan pandang.
Untung saja aku membawa binder kecil dan pulpen, selama laptopku ditangan Bobby aku melanjutkan tulisanku di binder biru bergambar Nemo ini.

07 November 2010.
Tepat di Minggu pagi, kala hujan rintik-rintik dan langit mendung menemani dinginnya kesejukan, waktu yang mendukung sifat pemalasku untuk beribadah sebagai kaum Nasrani.
Seorang teman mengajakku ibadah bersama lewat janji yang sudah kami rencanakan tadi malam, tapi dengan kata “Maaf” aku membatalkannya dan memilih menghabiskan waktu menikmati empuknya kasur Pink dan berkeluk didalam selimut blasteran magenta dan creamku sembari online dengan akun pribadiku hingga tengah hari.
Aku mengupdate status dengan isi:
“kumat sawan malasku..
xixixixixi..........”
Sebuah komentar milik teman Facebookku yang belum pernah kutemui membuatku sedikit malu dengan Tuhan isinya:
“Hai pemalas, pergilah pada semut, perhatikanlah tingkah lakunya dan jadilah bijak.
(begitulah firman Tuhan untuk pemalas) xixixixixi...”
Niat ibadahku pun mulai muncul karnanya, tapi sisi lain perdebatan antara gelap dan terangku bergumam” Tapi aku malas ibadah sendirian tanpa teman.”
Seseorang pernah berkata padaku: “Apa kamu dilahirkan ke dunia ini dengan teman?” Jawabku: “iya,
Bukankah aku satu dari jutaan sel telur pilihan Tuhan yang sempurna? Berarti aku tidak sendirian. Dan bukankah ari-ari selalu menemani kita dalam rahim Ibu bahkan setelah kita dilahirkan?
Mungkin dia begitu kesal dengan jawbanku,  karna itulah aku manusia yang tak pernah mau kalah menjawab.
Tahukah kalian, apa yang terjadi setelah alasanku yang tak penting ini?
Tuhan mengirimkanku seorang malaikat kecil berbaju putih dari sisi balik seorang perempuan yang baru tiga bulan menjadi teman dekatku (aku bahkan sudah menggangapnya seperti saudara sendiri).
Lewat sebuah postingan dia mengajakku beribadah minggu itu dan kali ini dengan senang hati aku tidak menolak ajakannya.
Tuhan tidak pernah berhenti berusaha membuatku untuk menjadi seorang yang rajin. Ketika aku malas, Tuhan mempunyai seribu cara untuk memberiku semangat yang bergelimangan.

Pukul 16.00 wib, di GBI Medan Plaza.
Aku duduk ditengah kedua temanku dan satu diantaranya adalah sahabat lama yang berganti kuajak ibadah bersamaku. Mereka adalah dua gadis yang kehilangan sosok Ayah dalam hidupnya dan itu adalah keterbalikanku sebagai Anak tanpa Ibu. Mereka memiliki masalah kehidupan dngan porsi yang berbeda dan menghadapinya dengan cara mereka sendiri.
Ketika nyanyian pujian berkumandang, kudapati beningan air mata keluar dari sudut pasang mata milik mereka yang berkaca. Kutawarkan tissue pada mereka dan ternyata mereka selalu mempersiapkan cadangan tissue sebelum beribadah.
Oh Tuhan, aku tak mampu menahan senyumku, sebenarnya aku ingin ikut menangis bersama mereka, menumpahkan setumpuk permasalahan duniaku yang begitu penat tapi sepertinya Tuhan tidak mengizikanku  untuk menangis. Dia terlalu memberi semangat berlebih untuk membuatku riang ditengah kesedihan mereka dan aku menikmati posisiku berusaha sedikit saja menghibur keduanya dengan  tingkah konyolku bersama tarian nada dinyanyian kidung-Nya. Setidaknya aku mampu mengukir seuntai senyum dikesedihan mereka.
(karna kesedihanku diwakilkan dengan air mata mereka dan biarkan senyumku menjadi hiburan kecil untuk mereka).
Tanpa sadar aku tersentak dengan alunan musik saksofon yang nyaring seperti menusuk hatiku dengan tiupan pedih nadanya. Tiap lirik bait yang dinyanyikan membuatku menunduk jauh mengkhayal tentang kisah masa lalu. Saksofon tua itu membuatku terharu tanpa kudalami siapa dia? Rahasia dibalik kisah yang tak mampu kupadamkan sejak malam itu, antara aku kau dan impian saksofon.

S'perti rusa yang haus
Rindu aliran sungaiMu
Hatiku tak tahan...
MenungguMu...
Bagai tanah gersang
Menanti datangnya hujan
Begitupun jiwaku
Tuhan.....
Reff:
Hanya Engkau...
Pribadi yang mengenal hatiku..
Tiada yang tersembunyi bagiMu..
Sluruh isi hatiku Kau tahu...
Dan bawaku...
Tuk lebih dekat lagi
PadaMu
Tinggal dalam indahnya dekapan
KasihMu...

Tahukah kamu, aku menikmati tiap lirik dalam bait lagu ini dengan hatiku? Tahukah kamu bahwa aku membisikkan sebuah doa pada Tuhanku saat kutertegun dengan suara saksofon itu?
Tuhan dalah sahabat yang mengerti bagaimana seorang Karenina Febrinta sebagai anakNya. Dia tidak selalu memberi apa yang aku pinta, tapi Dia selalu mencukupi apa yang aku butuhkan.
Kelak suatu hari nanti jika Tuhan mengizinkan, aku ingin melihat dengan mataku dan mendengar dengan telingaku saat kamu memainkan kidung pujianNya dengan saksofon milikmu.
(dan sampai waktu ini, namamu selalu ada ditiap doa malamku).

Sesuai dengan isi firman Tuhan yang aku dengar di Minggu ini.
MASALLAH adalah MASA ALLAH bekerja terhadap kita.
Apapun  gemelut masalah yang kau hadapi, ingatlah Tuhan sedang menilai ujian yang kamu hadapi.
Seberapa banyak air mata penderitaan duniamu bercucuran, maka sebanyak itu juga sumber air kebahagiaan yang kelak akan kamu peroleh.
Jangan kamu bahagia atas kesenangan yang instan, tapi bersukacitalah untuk kebahagiaan yang sesungguhnya, abadi dan kekal.
Semua hanya pada Yesus, Cinta adalah Yesus, Selalu percaya dan berserahlah hanya kepadaNya.
Yakinlah Tuhan begitu mencintai kita sebagai anakNya, Dia hanya mengajarkan kita bagaimana cara mengubah air mata pnderitaan menjadi sumber mata air kebahagiaan.

                                                                               
Kami sudah sampai di Bukit Kubu, tempat dimana rerumputan hijau menjadi alas segarnya udara dengan similir bisikan angin melambai.
“Hari ini kita akan mengelilingi Brastagi dengan berjalan kaki, jadi kamu harus siap-siap capek.”
“Tenang saja tuan, aku senang yang seperti ini.” Jawabku mengambangkan senyuman diwajahnya.
“Sebenarnya kita mau ngapain ditempat ini, Vit?” tanyaku ingin tahu.
“Kita akan mengunjungi beberapa bangunan Belanda disekitar tempat ini, lalu mencari informasi tentang bangunan tersebut, semacam wawancaralah.” Terang Vito sambil memandangi wajah binggungku.
“Untuk apa, Vit?” tanyaku penasaran
Vito menghabiskan senyum diwajahnya lalu menjawab, “Bangunan Tinggalan Kolonial Belanda sebagai Cultural Tourism di Berastagi Kabupaten Karo, itu judul Tugas Akhir-ku.” jelas Vito.
Aku menghabiskan waktuku seharian bersama Vito, menikmati hujan saat jam makan siang, ekses dengan photo-photo narsis kami, serasa berada di Belanda menikmati bangunan-bangunan tua, dan bertemu dengan seorang adventurer yang sudah berkeliling Indonesia dan tujuh negara berbeda.

Sepertinya aku membutuhkan kuas dan kanvas, cepat....!!
Sebelum akhirnya daya ingatku lupa melukiskan begitu banyaknya warna indah dihatiku saat ini.
“Thank’s yach udah nemenin, hari ini seru yach!” seru Vito senang, aku melihat kelegaan diwajah seorang lelaki yang takut dengan Anjing ini.
“Iya...”
“Beb, bagaimana dengan tulisanmu? Apa sudah selesai?” tanya Vito seperti tak bermasalah.
“Entahlah Vit, aku terlalu susah menuangkan apa yang ada dipikiranku tanpa ada orang yang bisa membangkitkan daya imajinasiku.” Aku sedikit mendengus.
“Mimpi itu namanya mimpi jika tercapai, kalau nggak berarti cuman mengkhayal.”
“Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Kita tak harus berpura-pura, kalau kita bisa pacaran.”
“Hei, kamu membuatku semakin bingung Vito...” kataku sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak terasa gatal.
“Kamu bodoh atau pura-pura bodoh sich, Beb?!”, kami hening sesaat, ini sudah pukul 20:00 wib dan kurasakan dinginnya udara di terminal Sutra Pasar Berastagi.
“Kita Pacaran.” Sambungnya mengejutkanku.
“Tapi...”
“Cinta adalah petualangan, saat kita memilih kita harus mampu menerima tantangannya. Asal kita mampu menikmatinya, nanti Cinta akan datang dengan sendirinya, Beb.” Aku menangkap sisi lain dari seorang Vito yang dingin, hari ini dia memang terlihat lebih hangat dari sebelumnya.
“Hmmm...”
“Udalah, Beb. Aku tahu kok, kamu juga suka kan denganku? Pakek acara sok mikir-mikir lagi.” Rayu Vito memerahkan pipiku.
“Isshhh... Pede banget sich kamu!!” gerutuku malu.
“Tinggal bilang iya aja payah. Hahahahaa...” ledeknya lagi.
“Vito, kamu nggak ada jiwa romantisnya banget sich!! Masa nembak cewek seperti ini, dipasar lagi.” Dalihku dengan aksen manja.
“Aku tak perlu romantis untuk seorang penulis bodoh seperti kamu, Bebby. Karna romantis yang sebenarnya adalah saat kamu merasa nyaman berada didekatku, bukan begitu Beibeh?” gombal Vito memplesetkan namaku sambil mencubit pipiku mesra.
Sepertinya aku mendapat inspirasi baru, tulisan yang kemarin biar saja berlalu, aku akan membuat tulisan baru dengan mimpi tanpa harus berkhayal dari sebelumnya.
Oh My God, hari ini begitu teramat indah bagiku.
Aku tak tahu lagi harus berkata apa, semuanya tak terlukiskan.
Terima-kasih buat hari ini, Tuhan.
Kau telah memberiku seorang Subjek sempurna untuk mengisi hariku.
Mungkin aku akan buat tulisan baru dengan judul Chosha Orokana & Ngerana of Love, pastinya cerita ini tentang aku dan Vito. Heheheheee.....

Tidak ada komentar: