(*) Hai, kamu yang berdiam diri dalam pekat.
Dari seberang aku melihatmu berselimut dendam,
membuatku enggan mendekat.
Seperti irisan nista aku bergumam, tapi hanya mampu
menitihkan luka.
Maaf, aku mencuri pandang dan kuharap kau juga tak
harus mendengar.
(**)Kakiku berpeluh resah,
memberontak menambah luka.
Sedikit aku menengadah, mengharap
bayang yang terlihat mendekat.
Tangisku bewarna merah, mengalir
bersama amarah yang memecahkan kesadaran.
Tapi kau tak kunjung datang.
(*)Aku berbalik dan hendak pergi, hanya diam tak
bergeming.
Membawa terang terlihat, tapi nyata hanya gelap.
Hanya sengir terlihat senewen mengandung cerita.
Kemudian hilang dalam penantian.
(**)Aku mengingat hari ini, dikala
malam menjadikan terangku hilang.
Dan kakiku terjajah haus akan
kebebasan, selalu ingin lari.
Tapi dunia menantang kehidupanku
sebagai pemula dan aku tak akan melupakan detik-detik ini.
(*)Untuk kesekian hari aku tak melihat, dan mungkin
ini adalah akhir.
Membiarkan tubuhku pergi tapi hati dan pikiranku
tersudut pada kegelapan.
Dan esok adalah akhir kehidupan, saat aku tak mampu
untuk bertahan, berusaha menghilangkan sakit.
Maaf, mungkin hanya mati maka adalah kebebasan.
(**) Setiap susunan epidermisku sudah
kebal oleh waktu, intuisi hanya sampah pengharapan.
Hati dan pikiranku musnah oleh
kehausan, dan tubuh ini biar mereka melihat akhirnya.
Kerinduan, hanya kehidupan masa lalu
yang ingin kubunuh.
Dan kau, aku hanya tidak bisa
memaafkan keadaan walau kau bersembunyi dalam nisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar