Noviemi Nina Dewanty Pandia

Noviemi Nina Dewanty Pandia

Sabtu, 02 Juni 2012

Aku dan Balasan


(*) Hai, kamu yang berdiam diri dalam pekat.
Dari seberang aku melihatmu berselimut dendam, membuatku enggan mendekat.
Seperti irisan nista aku bergumam, tapi hanya mampu menitihkan luka.
Maaf, aku mencuri pandang dan kuharap kau juga tak harus mendengar.

(**)Kakiku berpeluh resah, memberontak menambah luka.
Sedikit aku menengadah, mengharap bayang yang terlihat mendekat.
Tangisku bewarna merah, mengalir bersama amarah yang memecahkan kesadaran.
Tapi kau tak kunjung datang.

(*)Aku berbalik dan hendak pergi, hanya diam tak bergeming.
Membawa terang terlihat, tapi nyata hanya gelap.
Hanya sengir terlihat senewen mengandung cerita.
Kemudian hilang dalam penantian.

(**)Aku mengingat hari ini, dikala malam menjadikan terangku hilang.
Dan kakiku terjajah haus akan kebebasan, selalu ingin lari.
Tapi dunia menantang kehidupanku sebagai pemula dan aku tak akan melupakan detik-detik ini.

(*)Untuk kesekian hari aku tak melihat, dan mungkin ini adalah akhir.
Membiarkan tubuhku pergi tapi hati dan pikiranku tersudut pada kegelapan.
Dan esok adalah akhir kehidupan, saat aku tak mampu untuk bertahan, berusaha menghilangkan sakit.
Maaf, mungkin hanya mati maka adalah kebebasan.

(**) Setiap susunan epidermisku sudah kebal oleh waktu, intuisi hanya sampah pengharapan.
Hati dan pikiranku musnah oleh kehausan, dan tubuh ini biar mereka melihat akhirnya.
Kerinduan, hanya kehidupan masa lalu yang ingin kubunuh.
Dan kau, aku hanya tidak bisa memaafkan keadaan walau kau bersembunyi dalam nisan.

Tidak ada komentar: