“Aku benci padamu, disini disetiap ruang aliran darahku hanya ada kata aku benci padamu.
Aku disini, dengan pandangan angkuh berkata aku tak membutuhkanmu.
Pergi, pergi sejauh mungkin dan jangan ikuti aku lagi.
Disamping, sebelah, belakang dan cukup jangan dihadapanku.
Karna sekalipun aku merasa tapi tak akan sedetikpun aku berbalik bahkan menoleh kearahmu.
Kau,.. sudah cukup aku begini hancur karnamu.
Terusir, terasing, merasa sepi tidak menjadi masalah buat bekunya dinginku.
Aku tidak sedang menangis, bahkan tidak akan pernah menangis lagi.
Aku kuat, jauh sangat kuat melebihi siapapun, aku tidak takut siapapun, karna aku adalah aku, tetap aku dan hanya percaya pada diriku.
Cukup, aku tidak memerlukanmu karna selalu sendiri itu yang terbaik sehingga tidak akan merasakan sakit.
Dan yakinlah, saat ini aku sedang JUJUR dengan kebohonganku.
Kau puas?! Sudah puas lihat aku seperti ini?!”
Aku tersungkur, membiarkan lututku luka berdarah dengan mata sembab memerah membiarkan kucuran kesedihan meluap isak.
“Selamat Ulang tahun, Mmommmyyy.”
Aku bahkan hampir lupa menyebutkan kata Mommy yang baik dan benar.
“Apa aku terlalu durhaka sehingga berkelakuan tidak baik dimatamu, Ma?
Aku benar-benar merindukanmu, haus kata-kata penenang malamku, aku ingin melihat senyummu jelas walau aku takut tak ingin melepaskan tanganku saat dapat memelukmu. Ma, aku ingin membawamu lari bersamaku, mencurimu dari aturan waktu yang Kuasa dan berharap aku berkuasa atasmu. Apa aku terlalu jahat berkata demikian?! Bahkan surga menolakku pun, egoisku tak takut.”
Peduli setan orang berkata apa, aku kuat...!!
Ma, dihadapanku kubiarkan mini cake dengan cahaya api diatas angka 47 terus menyala, biar lilinnya meleleh menutupi permukaan lapisan cokelat yang pahit itu, setidaknya aku bisa merasa kau ada sampai lilinnya padam tak memberi terang.
Mommy atau Mama, siapapun sebutanmu yang telah melahirkanku, aku tak punya doa bahkan untuk sebaitpun.
Tapi, bisakah aku menganggap bantal yang dipelukanku ini adalah pangkuanmu?! Jangan muncul dihadapanku, aku takut melihatmu tapi peluklah aku, Ma. Biarkan aku tidur malam ini dalam ruangan gelap yang sempit dengan gong-gongan tikus yang berserakan, setidaknya biarkan aku tetap terlihat kuat dihadapan terang.”
Aku terlelap dalam pojok lingkaran malam, saat seorang dengan cahaya putih datang tanpa kulihat, tangannya menghangatkan gumpalan api dikepalaku, bukan panas tapi hangat, jubah lembut sengaja diselimutinya dibadanku, menutupi lapisan epidermis atasku dengan kasih.
Aku terbangun melihat sekelilingku, ternyata aku hanya sedang bermimpi diruangan yang sama, gelap, dingin dan sendiri, tanpa mini cake 47 tahun.
Tidak, aku belum menyentuhnya sedikitpun, apakah tikus-tikus mencuri cake Mommyku?!
Tak kutemukan, kecuali keberadaan kain bulu domba diperbaringan bantal tidurku dan secarik kertas putih tak bernoda, aku menangis tak percaya hampir meremukkan selembar kertas itu hingga air mataku menetes jatuh diatas permukaannya, menimbulkan goresan pensil membuatku takjub.
Isinya:
Anakku tercinta, mama tahu begitu kehilangannya kamu pada mama, tetapi mama tidak pernah seharipun tidak melihatmu dari sini dan tidak akan berhenti mencintaimu.
Walaupun mama sudah tidak bisa mengatakan “Mama Sayang Nina”, tapi mama selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin sayang padamu, sampai suatu saat kita bertemu lagi Anakku.
Sebelum saat itu tiba, biarlah waktu berjalan menjadikanmu sebagai gadis yang kuat dalam kasih, kuat sebagai anak Allah Bapa, dan kuat dalam iman.
Jangan sedih setiap rindu memaksamu memikirkan mama. Tempat mama berada sekarang begitu indah sehingga mama pun tak ingin kembali ketempat terdahulu.
Begitu mama sampai disini, Para malaikat menemui mama dan menunjukan banyak tempat indah, tapi butuh waktu banyak untuk mengunjungi semuanya.
Nina tahu apa yang mama lihat? Yesus tidak terlihat seperti lukisan yang dibuat oleh tangan manusia, tapi ketika mama melihatnya mama yakin Dia Yesus. Yesus sendiri yang mengajak mama bertemu Allah Bapa, mama diperbolehkan berbicara denganNya seolah-olah mama adalah orang yang sangat penting.
Nina tahu apa yang mama lihat? Yesus tidak terlihat seperti lukisan yang dibuat oleh tangan manusia, tapi ketika mama melihatnya mama yakin Dia Yesus. Yesus sendiri yang mengajak mama bertemu Allah Bapa, mama diperbolehkan berbicara denganNya seolah-olah mama adalah orang yang sangat penting.
Mama menceritakan kepada Bapa bahwa mama ingin menulis surat kepada Nina untuk mengucapkan salam rindu dan kata-kata yang lain.
Namun mama sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkanNya.
Tapi kamu tahu, Allah sendiri yang memberikan sehelai kertas dan pensilNya menulis surat ini padamu, Anakku.
Mama pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini padamu, sayang. Karna semua yang ada disini rindu Nina yang mengerti kasih dan takut akan Tuhan.
Malam ini mama akan makan bersama dengan Yesus dalam perjamuanNya, mama yakin makanannya lezat sekali melebihi makanan pesta pernikahan anak pejabat yang pernah kita datangi.
Ngomong-ngomong tidak ada orang yang dapat membaca apa yang mama tulis selain air mata kerinduan Nina sendiri.
Bagi orang lain surat ini hanya merupakan sehelai kertas kosong. Luar biasakan? Sekarang mama harus mengembalikan pensil yang mama pinjam ini kepada Bapa.
Bapa memerlukan pencil ini untuk menuliskan nama-nama dalam Buku Kehidupan, mencatat setiap keburukan kemudian menghapusnya ketika rasa bersalah meminta pengampunan doa pada Bapa.
Bagi orang lain surat ini hanya merupakan sehelai kertas kosong. Luar biasakan? Sekarang mama harus mengembalikan pensil yang mama pinjam ini kepada Bapa.
Bapa memerlukan pencil ini untuk menuliskan nama-nama dalam Buku Kehidupan, mencatat setiap keburukan kemudian menghapusnya ketika rasa bersalah meminta pengampunan doa pada Bapa.
Oh, mama hampir lupa memberitahukanmu, mama sudah tidak kesakitan lagi, penyakit itu sudah hilang. Mama senang sekali tidak harus merasakan sakit lagi. Bahkan Bapa juga tidak tahan melihat sakit ini.
Itulah sebabnya mengapa Dia mengirim Malaikat Pembebas untuk menjemput mama. Malaikat itu mengatakan bahwa mama merupakan kiriman istimewa.
Salam kasih dari Allah Bapa
Salam kasih dari Allah Bapa
“Dunia baru akan dimulai, Ma. Aku akan menceritakan padamu apa yang terjadi, dikehidupanmu nanti. Tunggulah aku, Ma!” janjiku dalam doa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar